Darurat Kekerasan Seksual Anak, Psikolog Tegaskan Pentingnya Perkuat Relasi Rumah dan Sekolah

Reporter : Redaksi
Psikolog Klinis Anak, Rendra Yoanda, dari Sekolah Cikal tegaskan rumah dan sekolah perlu perkuat relasi untuk melindungi anak. (Dok.Cikal)

KabareJatim.com - Kasus kekerasan seksual pada anak (child grooming) yang ramai terjadi di lingkungan sekolah turut menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan bagi publik. Publik mempertanyakan mengapa sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk bertumbuh, justru dapat menjadi memori traumatis bagi anak. 
 
Rendra Yoanda, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis Anak dan Wakil Kepala SD Cikal Amri Setu membagikan pandangannya mengenai kasus kekerasan seksual pada anak (child grooming) yang tengah marak terjadi di lingkungan sekolah serta mengungkapkan pentingnya penguatan relasi antara lingkungan sekolah dan rumah untuk melindungi anak.

Melihat kasus kekerasan seksual pada anak yang sedang banyak terjadi di lingkungan sekolah, psikolog Rendra menyampaikan keprihatinan atas maraknya kasus kekerasan seksual pada anak yang banyak terjadi di berbagai institusi pendidikan akhir-akhir ini. Ia menuturkan bahwa seharusnya sekolah dapat menjadi ruang aman bagi murid untuk memahami dinamika sosial kehidupan.

“Bagi saya pribadi, saya sungguh sangat menyayangkan terjadinya hal ini. Di luar lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat, institusi pendidikan merupakan salah satu lembaga di mana anak-anak tidak hanya mempelajari hal-hal akademik, tetapi juga bagaimana dinamika sosial terjadi dengan rasa aman,” ungkap Rendra.

Sebagai psikolog ahli, Rendra juga menyebutkan bahwa pelaku kekerasan seksual memang melakukan manipulasi secara bertahap dan membuat korban tidak menyadarinya. Hal inilah yang membuat anak-anak rentan terjebak di dalamnya. 

“Melihat banyaknya kejadian seperti saat ini, saya rasa perlu adanya penguatan relasi antara rumah dan sekolah karena pelaku kekerasan, khususnya dalam ranah kekerasan seksual, biasanya adalah orang-orang terdekat korban. Hal yang perlu dipahami juga adalah child grooming bukan proses yang instan, melainkan terjadi secara perlahan dalam waktu yang panjang,” kata Rendra.

Psikolog Rendra pun menegaskan bahwa kunci utama untuk meminimalisasi ruang gerak pelaku terletak pada kuatnya relasi antara rumah dan sekolah. Keduanya harus menjadi ekosistem yang melindungi anak. Apabila relasi rumah dan sekolah transparan, ruang bagi pelaku untuk mengintimidasi korban menjadi sempit karena adanya pengawasan dari dua lingkungan utama anak.

“Sekolah, sama halnya dengan rumah, harus menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Artinya, perlu ada penerapan strategi berkesinambungan untuk meminimalisir ruang gerak bagi pelaku kekerasan, seperti adanya komunikasi terbuka antara rumah dan sekolah, edukasi mengenai hak privat atas tubuh sejak dini dan konsisten antara rumah dengan sekolah, serta membangun ruang komunikasi yang tidak menghakimi sehingga anak bisa merasa nyaman menceritakan apapun yang ia lakukan dan alami kepada orang tua ataupun pihak lain yang ia percayai, sehingga saat ada hal-hal yang membuat anak merasa tidak nyaman, ia mengetahui ke mana saja ia bisa meminta bantuan,” tutup Rendra.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru